Review Film No Other Choice, Karya Terbaru Park Chan-wook yang Penuh Ketegangan
03 October 2025 |
12:33 WIB
Park Chan-wook kembali mengejutkan dunia perfilman dengan karya terbarunya berjudul No Other Choice (2025). Film tersebut menampilkan kepercayaan diri yang khas dari sang filmmaker, dengan alur naratif yang lentur dan penuh lapisan makna.
Di balik cerita yang awalnya tampak ringan, film ini perlahan berubah menjadi potret keluarga disfungsional, krisis pencari nafkah, rapuhnya maskulinitas, hingga sindiran terhadap kondisi sosial sebuah negara.
Film ini diadaptasi dari novel The Ax (1997), karya Donald E. Westlake, yang pernah difilmkan oleh Costa-Gavras pada 2005. Chan-wook mendedikasikan karyanya untuk versi sebelumnya, tapi berhasil menghadirkan sentuhan baru dengan gaya sinematiknya.
No Other Choice tayang di Festival Film Venesia dan, meskipun bukan dianggap mahakarya seorang Park Chan-wook, banyak pihak menyebutnya sebagai film terbaik dalam kompetisi tahun ini.
Baca juga: Bersinar di Ajang Internasional, No Other Choice Jadi Film Pembuka BIFF 2025
Kisah film ini berpusat pada You Man-su (Lee Byung-hun), seorang kepala keluarga yang baru saja terkena PHK dari pabrik kertas miliknya. Dalam salah satu adegan, ia terlihat memimpin acara barbekyu keluarga dengan senyum ramah, memanggang belut hadiah dari pemilik baru pabrik yang merupakan seorang warga Amerika.
Sekilas, momen itu terlihat hangat bersama sang istri Miri (Son Ye-jin), anak-anak, dan dua anjing kesayangan mereka. Akan tetapi, hadiah tersebut sebenarnya melambangkan kejamnya sistem yang telah menyingkirkannya dari pekerjaan. Dia berjuang mencari pekerjaan baru sebelum pesangonnya habis, demi kembali mendapat pengakuan dari keluarganya.
Namun, ketika usahanya sia-sia, Man-su melancarkan rencana licik. Dia membuat iklan rekrutmen palsu di sebuah majalah industri kertas, meminta pelamar mengirimkan berkas lewat pos agar tidak ada jejak digital. Tujuannya jelas yaitu menjebak pesaing, lalu menghabisi mereka satu per satu. Menurut Man-su, inilah satu-satunya cara untuk mengurangi persaingan kerja sekaligus membuka peluang bagi orang-orang lain.
Kalimat “no other choice” berulang kali muncul di film ini, baik dari mulut Man-su maupun para manajer Amerika yang menjustifikasi kebijakan mereka. Tekanan ekonomi dan kehilangan harga diri mendorong Man-su ke jalan yang makin gelap, menjadikan pembunuhan sebagai pelarian.
Dalam film No Other Choice, Park Chan-wook tak menyajikan cerita ini sekadar thriller berdarah. Justru, film ini membuka lapisan lain seperti trauma masa kecil Man-su di rumah keluarganya, perselingkuhan yang dia curigai dari istrinya, hingga kasus kriminal yang melibatkan anak laki-lakinya. Semua ini membentuk rangkaian subplot yang sama pentingnya dengan kisah pembunuhan yang direncanakan.
Di balik kekacauan itu, penonton dibawa masuk ke dunia psikologis Man-su yang penuh halusinasi dan mimpi aneh, membuat batas antara realitas dan fantasi semakin kabur. Film ini bukan sekadar kisah tentang seorang pembunuh berantai, melainkan tentang kehilangan, kegagalan, dan tekanan hidup yang membuat seseorang merasa tidak memiliki jalan keluar lain.
Dengan gaya khasnya yang penuh kejutan, Park Chan-wook sekali lagi membuktikan bahwa dia mampu menyulap tema serius menjadi tontonan yang menggugah, dan meninggalkan banyak pertanyaan.
Baca juga: Lee Byung-Hun dan Son Ye-jin jadi Suami Istri di Film No Other Choice
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Di balik cerita yang awalnya tampak ringan, film ini perlahan berubah menjadi potret keluarga disfungsional, krisis pencari nafkah, rapuhnya maskulinitas, hingga sindiran terhadap kondisi sosial sebuah negara.
Film ini diadaptasi dari novel The Ax (1997), karya Donald E. Westlake, yang pernah difilmkan oleh Costa-Gavras pada 2005. Chan-wook mendedikasikan karyanya untuk versi sebelumnya, tapi berhasil menghadirkan sentuhan baru dengan gaya sinematiknya.
No Other Choice tayang di Festival Film Venesia dan, meskipun bukan dianggap mahakarya seorang Park Chan-wook, banyak pihak menyebutnya sebagai film terbaik dalam kompetisi tahun ini.
Baca juga: Bersinar di Ajang Internasional, No Other Choice Jadi Film Pembuka BIFF 2025
Kisah film ini berpusat pada You Man-su (Lee Byung-hun), seorang kepala keluarga yang baru saja terkena PHK dari pabrik kertas miliknya. Dalam salah satu adegan, ia terlihat memimpin acara barbekyu keluarga dengan senyum ramah, memanggang belut hadiah dari pemilik baru pabrik yang merupakan seorang warga Amerika.
Sekilas, momen itu terlihat hangat bersama sang istri Miri (Son Ye-jin), anak-anak, dan dua anjing kesayangan mereka. Akan tetapi, hadiah tersebut sebenarnya melambangkan kejamnya sistem yang telah menyingkirkannya dari pekerjaan. Dia berjuang mencari pekerjaan baru sebelum pesangonnya habis, demi kembali mendapat pengakuan dari keluarganya.
Namun, ketika usahanya sia-sia, Man-su melancarkan rencana licik. Dia membuat iklan rekrutmen palsu di sebuah majalah industri kertas, meminta pelamar mengirimkan berkas lewat pos agar tidak ada jejak digital. Tujuannya jelas yaitu menjebak pesaing, lalu menghabisi mereka satu per satu. Menurut Man-su, inilah satu-satunya cara untuk mengurangi persaingan kerja sekaligus membuka peluang bagi orang-orang lain.
Kalimat “no other choice” berulang kali muncul di film ini, baik dari mulut Man-su maupun para manajer Amerika yang menjustifikasi kebijakan mereka. Tekanan ekonomi dan kehilangan harga diri mendorong Man-su ke jalan yang makin gelap, menjadikan pembunuhan sebagai pelarian.
Dalam film No Other Choice, Park Chan-wook tak menyajikan cerita ini sekadar thriller berdarah. Justru, film ini membuka lapisan lain seperti trauma masa kecil Man-su di rumah keluarganya, perselingkuhan yang dia curigai dari istrinya, hingga kasus kriminal yang melibatkan anak laki-lakinya. Semua ini membentuk rangkaian subplot yang sama pentingnya dengan kisah pembunuhan yang direncanakan.
Di balik kekacauan itu, penonton dibawa masuk ke dunia psikologis Man-su yang penuh halusinasi dan mimpi aneh, membuat batas antara realitas dan fantasi semakin kabur. Film ini bukan sekadar kisah tentang seorang pembunuh berantai, melainkan tentang kehilangan, kegagalan, dan tekanan hidup yang membuat seseorang merasa tidak memiliki jalan keluar lain.
Dengan gaya khasnya yang penuh kejutan, Park Chan-wook sekali lagi membuktikan bahwa dia mampu menyulap tema serius menjadi tontonan yang menggugah, dan meninggalkan banyak pertanyaan.
Baca juga: Lee Byung-Hun dan Son Ye-jin jadi Suami Istri di Film No Other Choice
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.